Postingan

Sehari Sebelum Lebaran

Gambar
Sabtu pagi, sehari sebelum lebaran, tiga tahun lalu menjadi salah satu yang paling kuingat. Kau sedang dalam perjalanan pulang, ke rumah dan mungkin ke aku. Motor menjadi pilihanmu, pelan-pelan ia mendekatkan kita. Dari yang tadinya ribuan kilometer, kini hanya menjadi beda desa. Selang beberapa waktu, kau mengabariku: aku sudah dirumah. Kini, setelah ratusan hari sejak kau pergi, aku masih menulisnya-hal yang sempat kau tanyakan dan membuatmu marah-dulu kau bilang "kenapa kau tidak pernah menulisku?" Sekarang, aku menulismu, dan kau tentu saja tak membacanya, dan bahkan muskil kau akan menanyakan "kenapa baru sekarang kau menulisku?" Untuk menyambung tanya yang dulu. Mustahil. Temanku, Abi. Pernah bertanya "kau belum move on?" Dan aku tak menjawabnya, tak tau perasaan seperti apa yang membuatku seperti ini. Satu waktu, aku pernah memikirkanmu, di hammock yang kupasang depan kontrakan lama. Waktu orang-orang sedang menjemput  bunga tidurnya, aku me...

Teman Terdekatku

Seperti apa cinta bagimu? Seperti apa?! Sementara sepi saling melumat diri kita saat ini. Kau jauh, dan aku menjadi sering menemui keasingan ia memaksa ia menuntut ia tak peduli dan aku masuk ke dalam keinginan-keinginannya ia membuat pohon oak menggugurkan daunnya. dan berkenalan dengan gergaji kata gergaji, aku mencintaimu

Stasiun Senen di Dalam Pikiran Laki-laki Sagitarius

Aku senang dengan kita yang sekarang, yang antusias, yang sudah tidak ingin lama-lama lagi menanti Februari. Akhirnya, ya. Aku akan satu kota denganmu. Kita akan sama-sama menjahit angan-angan di sana juga sama-sama sedih mungkin, lalu saling menawarkan tisu atau peluk. Sebentar lagi aku bisa menemanimu, kalau kau mau makan mie ayam yang katamu enak banget, kalau kau ingin keluar mencari angan yang lain. Aku bisa Yang harus kau tau, aku juga tidak sabar. Melihat kau di pintu keluar Stasiun Senen. Kau yang berdiri, tak mau duduk, terus-terusan melihat jam, sesekali berharap ketika ada suara pengumuman sambil meminta itu adalah keretaku. Mungkin akan seperti itu ya kita? Kalau waktu itu kau lebih bisa menggunakan logika, bahwa yang ada dihidupmu adalah aku, bukan khayalan tentang masa lalumu. Kalau waktu itu aku lebih bisa menenangkan badaimu, lebih bisa meyakinkanmu, tidak kalah dengan masa lalumu. Kalau waktu itu kita sama-sama sabar.

Perempuan di Patjar Merah

Aneh sekali rasanya Berbicara dengan perempuan di tengah tumpukan buku Matanya mirip matamu Pilihan jaketnya juga Gayanya ketika boomerang Memutar-mutar kayak gasing Aneh sekali rasanya Ketika aku di hadapanmu Dan aku merasa seperti mengulang Dan tak pernah ada ulang Kita baru pertama Aku mengira ada kau di dalam seseorang di depanku Di tengah-tengah tumpukan buku Aku masih bisa menemui kau, di dalam matanya Diantara satu kaki yang dijinjit sambil diputar-putar

Dear Udinus, Kenapa Kamu Melanggar Tradisi Keluargaku

Hari ini, 15 tahun yang lalu, sehabis sholat Ashar aku bergegas ganti pakaian. Aku memakai celana jens dan kemeja kotak-kotak warna biru. Aku setengah berlari mencari ibu sambil membawa sisir rambut, di umur 7 tahun disisiri oleh ibu membuat penampilanku tambah keren dibanding menyisir rambut sendiri. Paling nggak itu yang dikatakan ibu. “Kadonya mana Ma?” tanyaku “Di atas kulkas” jawab ibu Aku mengambil kado yang sudah dibungkus ibu, kemudian pergi ke rumah temanku yang jaraknya 5 langkah dari rumahku sendiri. Temanku ini sedang ulang tahun. Perayaan tiap tahun yang hampir dilakukan oleh semua orang, tapi tidak di keluargaku. Di sana seperti biasa, selayaknya anak kecil yang masih menganggap dunia adalah tempat bermain terluas, rumah temanku jadi ramai kayak kantin SD pas jam istirahat. Setelah pembacaan selamat ulang tahun dan potong kue. Kami berebut untuk makan kue. Aku dapat satu potong, di atasnya masih ada lilin yang sudah mati. Aku menepi ke pojok ruangan, menutup mata, b...

Pertanyaan Pertama Untuk Kekasih

Menurutmu kita berkekasih karena kita sekarang sama-sama saling suka atau kita nanti juga masih akan saling peduli dan tanggung jawab pada apa yang akan kita putuskan? Peduli bukan soal apakah kita setiap hari harus saling memberi kabar atau setiap hari harus ada pertemuan. Itu soal yang bisa kita cari kenyamanannya. Tapi apakah kita akan peduli, jika salah satu dari kita ada yang mengaku mencintai sedang yang lain mengaku sudah tidak mencintai? Apakah yang mencintai akan bisa berfikir "Kalo kita lanjutin hubungan ini, apa kamu akan merasa terpaksa, karena kamu sudah tidak cinta lagi denganku?" Lalu, apakah yang mengaku tidak cinta juga bisa berfikir "Apakah hubungan ini harus berakhir? Karena kamu masih cinta, artinya kita belum sama-sama menyerah, hanya aku yang kalah. Kalau kita berhenti, apakah aku egois?" Dan apakah setelah ini kita masih bisa saling evaluasi? Kenapa kamu menyerah, apakah kita kurang perhatian, kurang pertemuan atau kurang kehangatan...

Angan-angan di Kota yang Jauh

Diantara 412 kilometer, tak adakah gedung-gedung tinggi yang menjulang? Atau gunung-gunung yang punya hutan paling sepi. Tak adakah diantara 412 kilometer itu penghalang dan peredam angan-angan? Sore, menjelang maghrib di Semarang. Mataku perlahan terbuka, badanku kepanasan. Kota ini masih terasa panas, meski sudah 3 tahun aku menumpang hidup. Bagaimana di situ? Dengan gemerlap angan-angan dan harapan untuk punya hidup yang lebih baik? Kota yang aneh, tidak pernah mengatakan apa-apa tetapi bisa membuat banyak orang berharap banyak. Bagaimana di situ? Ku dengar kau sudah tidak lagi takut dengan gelap, dengan jam dengan angka puluhan dan roda-roda besar yang bisa saja meninggalkanmu jika telat beberapa menit saja. Kau hebat, bisa bertahan di dunia seperti itu. Aku pernah loh, ingin ke sana, ingin mencicipi juga bagaimana perasaan punya angan-angan di kota penghasil angan-angan terbaik. Sayangnya di dua kali kesempatan yang ku punya, aku tak punya nyali. Gagal sudah mencoba hidu...