Menurutmu kita berkekasih karena kita sekarang sama-sama saling suka atau kita nanti juga masih akan saling peduli dan tanggung jawab pada apa yang akan kita putuskan? Peduli bukan soal apakah kita setiap hari harus saling memberi kabar atau setiap hari harus ada pertemuan. Itu soal yang bisa kita cari kenyamanannya. Tapi apakah kita akan peduli, jika salah satu dari kita ada yang mengaku mencintai sedang yang lain mengaku sudah tidak mencintai? Apakah yang mencintai akan bisa berfikir "Kalo kita lanjutin hubungan ini, apa kamu akan merasa terpaksa, karena kamu sudah tidak cinta lagi denganku?" Lalu, apakah yang mengaku tidak cinta juga bisa berfikir "Apakah hubungan ini harus berakhir? Karena kamu masih cinta, artinya kita belum sama-sama menyerah, hanya aku yang kalah. Kalau kita berhenti, apakah aku egois?" Dan apakah setelah ini kita masih bisa saling evaluasi? Kenapa kamu menyerah, apakah kita kurang perhatian, kurang pertemuan atau kurang kehangatan...
Untuk Penulis Blog Galau yang kini pindah ke Wordpress, nampaknya kamu harus belajar arti menikmati, hingga nanti kita akan sampai pada satu pemahaman. Semuanya akan selalu nampak biasa - biasa saja, yang hebat juga yang buruk hanyalah tafsiran manusia saja. Adalah teman SMP ku yang malam ini mengirim link tulisanya lewat Whatshapp. Tulisanya biasanya seputar patah hati dan selebihnya tentang laki - laki yang menunggu wanita lain putus dari pacarnya, meski saat putus ia masih harus menunggu si wanita move on. Menyembuhkan luka adalah keahlianya, sekedar terimakasih adalah jawaban yang biasa ia terima, iya cuma terimakasih bukan saling kasih wqwqwq apasih ini anjir Tidak seperti biasanya, kali ini tulisanya lain. Ia mungkin mulai resah dengan Instagram, Kecenderungan orang pamer, nyinyir dll, silahkan kunjungi saja disini https://bayuabimulyantara.wordpress.com/2018/05/13/pesan-2/ dan nampaknya saya kurang setuju dengan argumenya. Pertama ia merasa membuang waktu dalam ...
Apakabar ? Haruskah aku menyapamu dengan seperti itu ? Seperti sepasang yang sudah lama sekali tak bertemu. Bukankah seminggu sekali kita slalu bertemu ? Sebenarnya tidak juga, mungkin lebih tepatnya setiap hari kita bertemu atau lebih detailnya aku yang menemuimu. Saat itu kau riang sekaligus tenang, menyenangkan sekaligus menghanyutkan dan tanpa sengaja aku menikmatinya. Aku senang melihatmu yang gemar tertawa, aku senang melihatmu yang mencoba mengikat rambutmu, padahal rambutmu hanya sebahu kan ? dan saatmu mengikat, pasti karet gelangnya kau gigit. Aku senang mendengar berbagai kisah yang telah kau lalui, menjadi teman dalam bicaramu. Aku pikir kita telah lolos menjadi sepasang yang berbahagia. Hingga aku kemudian menyadari, tak pernah sekalipun ada kata “ kita ” . Hanya ada kau yang sedang menunggunya, dan aku menjadi pendengar ceritamu. Ternyata “kita” hanya terjadi di angan - anganku saja. Dan mungkin benar, dari berbagai bahaya yang ada di dunia ini, me...
Komentar
Posting Komentar